Banyak diantara kita yang mengeluh dengan aktivitas harian yang itu-itu saja. bangun, kerja, tidur dan begitu seterusnya. seakan telah menjadi sebuah siklus yang tak terbantahkan dalam hidup ini. tapi apa boleh buat, dunia hari ini telah memberikan arti tersendiri pada kata pekerjaan. pekerjaan Bukan lagi seperti yang di katakan Marx bahwa manusia bekerja secara bebas dan universal atas dasar daya cipta. Pekerjaan bukan lagi sebuah objektivasi manusia yang Tercermin dari perasaan bangga ketika di hadapkan pada hasil yang telah dikerjakannya. Manusia memiliki daya cipta yang membuktikan bahwa mereka nyata. Namun dunia hari ini sangatlah berbeda, manusia tidak lagi berproduksi atas dasar objektivitas dan hukum estetika. Cukuplah apa yang telah marx katakan kita jadikan sebagai suplemen untuk memahami hakikat kita. Dunia hari ini adalah dimana manusia harus bekerja untuk dapat bertahan hidup. dimanapun kita berada kita tidak akan bisa lepas dari ketergantungan kita terhadap uang dan berjuta hasrat untuk memiliki, hasrat untuk memiliki hidup yang lebih baik dan hasrat untuk merayakan hidup. Semua itu kita dapat dengan bekerja, tapi disaat kita dihadapkan pada situasi ketika kamu telah menyerahkan diri dalam sebuah pekerjaan, dengan harapan dapat mendapatkan hidup yang lebih baik, dengan segudang totalitas dan loyalitas kerja, jam kerja, besar-kecilnya upah itu justru membuat kita tidak diberi kesempatan untuk merayakan hidup yang samasekali tidak sesuai dengan harapan-harapan kita sebelumnya. dengan bekerja kita bisa mendapatkan sejumlah uang untuk merealisasikan kesenangan-kesenangan untuk melepas kejenuhan bekerja dengan mentraktir kawan dekat, berkencan dengan kekasih, membayar kontarakan infohouse atau untuk sekedar membeli buku dari toko buku agar mendapat pengetahuan lebih. begitu banyak bentuk perayaan hidup. Namun sepertinya dunia hari ini tidak menyediakan kesenangan gratis, rupanya semua hal harus dibeli. kecuali ketika kamu mendapatkan kesenangan dalam bunga tidur mimpi indah.
dunia hari ini memang tidak ideal. dunia hari ini adalah dunia dimana kapitalisme berjaya. hukumnya adalah kompetisi. yang miskin jadi budak dan yang kaya menjadi majikan. yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. tentu ini bukan sebuah dunia yang adil bukan? tapi sekali lagi aku katakan bahwa dunia hari ini adalah dunia dimana kapitalisme Berjaya. Realitas memberitahu kita bahwa kita perlu uang untuk bertahan hidup.
Pilihlah sebuah pekerjaan,
tentu ini tidak mudah, banyak diantara kita yang mempunyai semangat kerja, melepas hari-hari keluar-masuk kantor dengan lembaran surat lamaran kerja, mereka yang terus berusaha mencari pekerjaan. Selain itu kita juga dipaksakan berkompetisi dalam hal ini. menawarkan tenaga untuk sebuah harga. dunia hari ini memang menyediakan banyak lapangan kerja, namun dunia hari juga menyediakan banyak permintaan. dunia hari ini adalah sebuah arena kompetisi. dimana setiap pesertanya harus bertarung dalam keahlian, tingkat pendidikan, dan modal. lagi-lagi kita dihadapkan pada kata modal. dinamika hidup hari ini mencipkatan sebuah fase hidup yang sangat popular dimasyarakat yaitu : modal menentukan tingkat pendidikan - pendidikan menentukan sebuah keahlian - dan keahlian adalah modal. sebagian besar masyarakat kita memang menganut fase hidup demikian. aku tidak menyebutkan bahwa fase hidup seperti itu adalah salah, aku hanya menyebutkan bahwa banyak jalan menuju roma. Pilihannya adalah mensiasati hidup sedemikian rupa untuk kemerdekan akal dan kembali pada pandangan klasik marx tentang sebuah pekerjaan yang mendasarkan diri pada hakikat kita yang berdaya-cipta. Hidup kita tidak berhenti dan kalah hanya karena kita tidak mempunyai modal nominal untuk sebuah pendidikan formal, kita tidak terpenjara dalam keadaan ekonomi yang lemah, akal tetaplah merdeka. kita tetap mempunyai kesempatan untuk memilih sebuah pekerjaan tanpa harus berkompetisi berebut lapangan kerja yang disediakan dunia hari ini. Karena memang Tak banyak diantara kita yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjalani ‘ fase hidup popular’ dunia hari ini yang memang sangat kapitalistik.
“Bagaimana aku bisa mendapatkan sebuah pekerjaan yang baik sementara aku tidak mempunyai modal yang banyak diminta oleh para pemodal untuk menambah modalnya? Paling tidak aku harus mempunyai selembar ijazah sesuai permintaan, pengalaman kerja, dan sukur-sukur aku dapat memberikan sejumlah uang pada mereka untuk dapat bekerja… tapi aku tidak mempunyai semua persyaratan itu karena aku memang tidak mampu, apakah aku salah berkata demikian?”
Kita tentu tidak asing dengan kutipan kata seperti itu, karena memang begituah keadaan dunia hari ini. Mayoritas masyarakat kita telah dihadapkan dengan kondisi hidup semacam itu. tapi justru dengan kondisi hidup yang seperti itulah daya cipta terpacu kita semakin menuju nyata. Ketika kita tidak ada pilihan lain selain melawan dunia hari ini dengan mentalitas yang mantap untuk hidup mandiri, mencipta dan berimajinasi. Benar adanya hidup mandiri, mencipta, dan memilih sebuah pekerjaan dengan cara sendiri itu tak semudah aku menuliskan barisan kata-kata ini. Aku meminta maaf kepada mu kawan, karena aku tidak mempunyai pilihan lain selain mengajakmu untuk memulai sebuah perubahan bersama. Untuk dirimu, juga diriku dan semua. Mulai membebaskan cara pandang kita yang mungkin telah berlutut pada dunia hari ini yang Bergerak mengikuti segala tata-cara hidup kapitalisme . menciptalah sebuah kesempatan untuk dirimu sendiri jika kapitalisme tidak dapat memberimu kesempatan. Merdekalah akal, imajinasi dan daya-cipta!
Lalu menyiapkan sebuah senjata dari bekerja..
“ aku kumpulkan sebagian upah yang di berikan bossku atas tenaga kerjaku selama ini dengan harapan kelak aku dapat membeli sebilah parang untuk kemudian dapat aku jadikan alat ini sebagai ancaman…”
Bagi sebagian orang bekerja adalah sebuah keharusan. Sebuah hal dilematis yang sepertinya tidak bisa dipungkiri lagi. Dalam kehidupan bermasyarakat pekerjaan merupakan sebuah tolok-ukur yang sangat menentukan sebuah status sosial dimana setiap orang yang mempunyai pekerjaan yang mapan dan baik akan mendapatkan tempat yang baik pula dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini yang kemudian menginspirasi banyak orang untuk dapat bekerja, punya uang banyak dan menjadi orang yang terpandang di masyarakat. dalam dunia hari ini, menurutku, mayoritas masyarakat, selain untuk pemenuhan kebutuhan hidup, mereka juga bekerja atas dasar mengejar status sosial. ini adalah hasrat. Ini juga sebuah mimpi dan banyak orang berjuang dan berkorban untuk harsat yang seperti ini. Serupa dengan kapitalisme, para pemodal juga bekerja untuk mengejar monopoli pasar. Berkompetisi dengan pemodal lain untuk mendapatkan tepat yang paling tinggi. Modal yang besar menentukan posisi mereka dipasar. Ini juga sebuah hasrat. Ini adalah dua hal yang sama. Kapitalisme memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku masyarakat. terutama dalam mengejar status sosialnya. Siapapun yang mempunyai tingkat konsumsi dan daya beli yang tinggi itulah yang menentukan status sosialnya. banyak sekali orientasi orang bekerja. Saya juga tidak ingin terlalu jauh menyebutkan tentang seberapa jauh pengaruh kapitalisme dalam kehidupan masyarakat kita hari ini. Karena dalam dunia hari ini kapitalisme telah tumbuh dalam segala aspek kehidupan kita. Perhatianku kembali terfokus pada emansipasi dalam sebuah pekerjaan yang kita pilih. Kita tentu sadar penuh bahwa dunia hari ini tidak memberikan kesempatan pada individu-individu yang lemah untuk dapat bertahan, setiap orang dipaksa untuk terus berkompetisi. Kembali kita dihadapkan pada pilihan, memilih menjadi pekerja yang mengamini dominasi kapitalisme sebagai sesuatu kecurangan, penghisapan, dan merangsangmu untuk berhalusinasi bahwa hidupmu hari ini tetap harus disyukuri sebagai takdir tuhan. Atau sebaliknya, kita menjadi pekerja yang tangguh dan cerdas yang mampu memahami dominasi kapitalisme hari ini adalah sebagai suatu kecurangan, penghisapan nyata, bukan kehendak tuhan dan bukan terjadi begitu saja sehingga kamu memilih untuk mengemansipasikan diri untuk melawan. Sebuah kehidupan yang lebih baik tentu harus diperjuangkan. Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya hidup kita kepada kapitalisme karena kita berhak atas hidup kita sendiri. sekalipun kita terlibat langsung dalam aktifitas produksi kapitalisme sebagai pekerja. jangan biarkan tekanan, penghisapan, kecurangan kapitalis membuat semangat untuk mengemansipasikan diri kita menjadi tumpul. Sebagai implementasi bentuk-bentuk perlawanan itu dapat kamu lakukan beriringan bersama eksploitasi atas dirimu. Semakin kamu terekploitasi semakin kamu mantap semangat juangmu. Dan kamu akan kembali pada hakikatmu, sebagai manusia yang bergerak dengan intuisi, Pandai siasat, dan menemukan sebuah jalan untuk menyelamatkan diri. Kamu bekerja, kamu mendapatkan upah, kamu bertahan untuk hidup, dan itu artinya kamu mempunyai kesempatan untuk melawan. Kamu bisa mulai dengan menggunakan fasilitas kantor, pabrik atau apapun untuk mensupport aktifitas perlawanamu. Kamu juga bisa mulai bersama dengan kawan-kawanmu yang mempunyai pandangan yang sama, satu pikiran, senasib, dan sejalan untuk membangun sebuah kelompok, organisasi atau sindikat sehingga kamu dan kawan-kawan bisa secara kolektif mengumpulkan uang untuk mensupport kebutuhan produksi kelompok, organisasi atau sindikatmu untuk tetap bisa melawan melalui bentuk terbitan, membuka infohouse, taman baca, mengorganisir sebuah acara, dan apapun sebagai media perlawananmu. kapitalis memberikan kita uang atas kerja-kerja kita, dan lihatlah ini sebagai sebuah kesempatan, sebuah kesempatan untuk mengembalikan apa yang telah diberikan kapitalis pada kita menjadi sebuah senjata yang membahayakan eksistensinya. Ringkasnya adalah dari kapitalisme untuk kita, dari kita untuk keruntuhan kapitalisme!
Sadarilah bahwa dunia hari ini tidak akan berjalan tanpa kita semua rakyat pekerja! bangun kekuatan rakyat miskin! Organisasikan dirimu! Merdekalah Daya-Cipta!
Jumat, 07 Januari 2011
MIMPI YANG BERMIMPI
Hujan turun begitu lebat malam itu, aku meringkuk tak berdaya di atas kursi rotan didalam ruang tamu kecil ku yang tampil seadanya. berselimut selembar kain putih yang aku harapkan dapat menghangatkan tubuhku barang sejenak. Mata lelahku memandangi jam dinding yang mulai menunjukkan pukul 02.57 pagi. Aku lelah, namun pikiranku tak pernah sedikitpun merasa lelah. Banyak hal yang aku pikirkan, dan banyak hal pula yang aku rencanakan. Tidak ada suatu hal pun yang mampu membuatku tertidur, tidak untuk sebuah kamar ber-ac, tidak untuk sebuah kasur bulu, dan tidak pula obat tidur. Aku selalu terjaga.
Malam itu pikiranku serasa dibawa oleh sebuah kekuatan diluar diriku menuju sebuah bayangan dimana aku dapat melihat bermacam-macam mimpi manusia yang sedang bermimpi. Seperti sebuah komik, aku melihat seseorang tertidur dan diatasnya menggelembung gambaran aktivitas mimpinya. aku melihat kegelisahan tidur dalam mimpi buruk, tersenyum dalam mimpi indah, mimpi basah, dan lain-lain
Malam itu aku melihat ratusan gelembung mimpi dengan keaneragaman aktivitasya
aku merasa sangat tidak beruntung malam itu, bagaimana tidak, untuk tidur yang berkualitas saja aku tak bisa, bagaimana bunga tidur? Malahan seringkali aku merasakan tidurku sangat cepat,selalu bangun secara terpaksa dan kadang-kadang aku menyertai kebangkitanku itu dengan umpatan.
Aku merasa dicurangi malam itu, oleh siapa? Aku tidak tahu.
Gelembung-gelembung mimpi orang-orang itu membuatku tertarik untuk mengamatinya
Orang yang pertama kali mimpinya aku amati adalah, sebut saja mawar (nama samaran) dia adalah tetanggaku, kurang lebih umurnya 23 tahun, dia adalah seorang mahasiswi. Dia adalah mantan pacarku, hubungan kami berakhir sekitar 4 tahun lalu. Sebenarnya aku masih sayang dengannya, tapi sepertinya dia sudah muak dengan segala ketidakmapanan hidupku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengharapkannya lagi. Aku sdar diri.
Malam itu dia bermimpi sedang bergandengan tangan didalam mall dengan seorang anggota TNI berseragam lengkap. Didalam mimpinya dia terlihat begitu bahagia. Sesekali dia melirik diikuti senyum malu-malu manja kepada pasangannya. Begitu pula dengan pasangannya itu, sesekali dengan meyakinkan dia terlihat menawarkan mawar untuk memilih pakaian dan perhiasan. Aku tak kuasa untuk mengamati mimpi itu lebih jauh, dengan pertimbangan untuk kebaikan kondisi kejiwaanku, aku tak mau sakit hati untuk yang kedua kalinya aku memutuskan utuk pergi mengamati mimpi-mimpi yang lainya.
Aku berpindah untuk mengamati sebuah gelembung mimpi yang dari jauh terlihat begitu atraktif. Aku berlari mendekati gelembung mimpi itu. Aku tidak mengenali siapa orang orang yang sedang bermimpi itu. Aku melihat dia tengah ketakutan, di menjerit-jerit seperti ada yang menyakitinya. Aku melihat wajahnya penuh luka, dia menangis tersedu-sedu dipojokan sebuah ruangan. Sepertinya dia sedang disiksa, dia merintih kesakitan. Aku terus menegadahkan kepalaku untuk terus menyimak gelempung mimpi itu. Tiba-tiba muncullah seorang denga perwakan kekar denag sebilah pedang menginjak kepalanya dan berkata dengan suara dingin “berikan semua hartamu atau aku akan menebas lehermu…” dan...ups, ternyata orang yang sedang bermimpi itu bangun dari mimpinya. Gelembung mimpi itupun pelan menghilang bersama nafasnya yang tersengal-sengal . aku melihat wajahnya sangat pucat dengan butiran keringan membasahi tubuhnya. Dia langsung mmeriksa kotak emas dan semua hartanya. Ia mendekapnya erat-erat dan berteriak “jangan ambil hartaku! Jangan ambil semua hartaku!” sampai akhirnya ia sadar sepenuh bahwa dia sedang bermimpi.
Aku tersenyum melihatnya. Dia begitu takut kehilangan hartanya. Yayaya aku mengangguk-anggukan kepala seolah paham dan berkata “bagus juga mimpimu kawan”.
Aku melangkah kembali menyusuri gang-gang yang mulai tidak aku kenali. Masih banyak gelembung-gelembung mimpi melyang-layang diatas rumah penduduk
Tidak ada seorangpun di jalan itu. Hanya aku seorang diri. Ini adalah hal yang menyenangkan. Aku dapat melihat apa yang sedang dimimpikan orang. Tapi tetap saja akulah satu-satunya orang yang tidak beruntung. Disaat orang-orang sedang bermimpi aku malah berkeliaran seperti ini. Huh..
Sebuah gekembung mimpi kembali mencuri perhatianku, didalam gelembung itu aku melihat suasana desa yang asri, masyarakatnya pun ramah tamah. Aku ingin tahu, siapa sih yang sedang bermimpi ini. Aku melihat seorang remaja berumur sekitar 22 tahun yang sedang tersenyum dalam tidurnya . Dikamarnya aku melihat laptop yang menyala dan banyak sekali buku-buku politik, poster-poster band-band seperti sex pistols, chumbawamba,dead kennedys dan banyak lainnya.
Aku kembali mengamati gelembung mimpinya. digapura desa itu tertulis “ selamat datang didesa sukasuka” semua masyarakatnya ramah, semua hidup dengan bahagia.
Setiap orang bekerja menurut kemampuannya, tanah dan pabrik semua dimiliki bersama.
Semua hasil sumberdaya desa tersebut dinikmati bersama. Tidak ada aktivitas jual-beli,
masyarakatnya menjadikan simbiosis mutualisme sebagai dasar hidup mereka. Mereka benar-benar mandiri dan kreatif.aku melihat di desa itu samasekali berbeda dengan desa-desa yang pernah aku kunjungi. Aku senang mengamati mimpi remaja ini. Sampai-sampai aku duduk manis dipinggir jalan dan bersandarkan tong sampah. Aku terus mengikuti perjalanan mimpi pemuda itu…namun konsentrasiku pecah ketika seekor kucing berlari cepat didepanku kemudian dikuti suara gaduh gonggongan anjing. Pandangan mataku terarah pada sumber gonggong anjing itu dan kemudian seekor anjing besar hitam tanpa ekor dengan giginya yang menyeramkan keluar dari sebuah rumah besar sekitar 7 meter dari tempatku duduk. Anjing itu berlari kearahku dengan buas. Akupun meloncat bangkit dan mengambil langkah 500 ribu, tak sampai pada langkah yang ke seribu. Barisan gigi besar nan tajam itu menancap keras dipantatku. Akupun berteriak sejadi-jadinya! Ya allah pantatkuu!!!! Aku merasa mau pingsan,badanku terhuyung-huyung jatuh kebelakang. Bebarengan dengan itu aku merasa kepalaku terbentur sesuatu seketika aku tersentak dan membuka mataku. Nafasku berhembus tidak beraturan. Aku medapati tubuhku dilantai kepalaku terbentur tembok dan tulang ekorku nyeri karena terjatuh dari kursi rotan. ternyata aku hanya bermimpi. Syukurlah! Aku mencoba tenang sedikit untuk mengatur nafas.aku lihat jam dinding menunjukan pukul 7 padahal aku harus masuk kerja tepat pukul 7 pagi. Sial!!! Aku telat lagi!! Dengan tergesa-gesa beserta umpatan-umpatan aku bangkit dan bergegas menyiapkan diri untuk bekerja.
Aku kancingkan seragam kerjaku sambil mengumpat, aku pakai sepatu doctor matrin ku juga sambil mengumpat, aku kebut skuterku juga dengan mengumpat. Aku mengutuk diriku sendiri, aku mengutuk aktivitasku. aku benci pagi harii
Malam itu pikiranku serasa dibawa oleh sebuah kekuatan diluar diriku menuju sebuah bayangan dimana aku dapat melihat bermacam-macam mimpi manusia yang sedang bermimpi. Seperti sebuah komik, aku melihat seseorang tertidur dan diatasnya menggelembung gambaran aktivitas mimpinya. aku melihat kegelisahan tidur dalam mimpi buruk, tersenyum dalam mimpi indah, mimpi basah, dan lain-lain
Malam itu aku melihat ratusan gelembung mimpi dengan keaneragaman aktivitasya
aku merasa sangat tidak beruntung malam itu, bagaimana tidak, untuk tidur yang berkualitas saja aku tak bisa, bagaimana bunga tidur? Malahan seringkali aku merasakan tidurku sangat cepat,selalu bangun secara terpaksa dan kadang-kadang aku menyertai kebangkitanku itu dengan umpatan.
Aku merasa dicurangi malam itu, oleh siapa? Aku tidak tahu.
Gelembung-gelembung mimpi orang-orang itu membuatku tertarik untuk mengamatinya
Orang yang pertama kali mimpinya aku amati adalah, sebut saja mawar (nama samaran) dia adalah tetanggaku, kurang lebih umurnya 23 tahun, dia adalah seorang mahasiswi. Dia adalah mantan pacarku, hubungan kami berakhir sekitar 4 tahun lalu. Sebenarnya aku masih sayang dengannya, tapi sepertinya dia sudah muak dengan segala ketidakmapanan hidupku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengharapkannya lagi. Aku sdar diri.
Malam itu dia bermimpi sedang bergandengan tangan didalam mall dengan seorang anggota TNI berseragam lengkap. Didalam mimpinya dia terlihat begitu bahagia. Sesekali dia melirik diikuti senyum malu-malu manja kepada pasangannya. Begitu pula dengan pasangannya itu, sesekali dengan meyakinkan dia terlihat menawarkan mawar untuk memilih pakaian dan perhiasan. Aku tak kuasa untuk mengamati mimpi itu lebih jauh, dengan pertimbangan untuk kebaikan kondisi kejiwaanku, aku tak mau sakit hati untuk yang kedua kalinya aku memutuskan utuk pergi mengamati mimpi-mimpi yang lainya.
Aku berpindah untuk mengamati sebuah gelembung mimpi yang dari jauh terlihat begitu atraktif. Aku berlari mendekati gelembung mimpi itu. Aku tidak mengenali siapa orang orang yang sedang bermimpi itu. Aku melihat dia tengah ketakutan, di menjerit-jerit seperti ada yang menyakitinya. Aku melihat wajahnya penuh luka, dia menangis tersedu-sedu dipojokan sebuah ruangan. Sepertinya dia sedang disiksa, dia merintih kesakitan. Aku terus menegadahkan kepalaku untuk terus menyimak gelempung mimpi itu. Tiba-tiba muncullah seorang denga perwakan kekar denag sebilah pedang menginjak kepalanya dan berkata dengan suara dingin “berikan semua hartamu atau aku akan menebas lehermu…” dan...ups, ternyata orang yang sedang bermimpi itu bangun dari mimpinya. Gelembung mimpi itupun pelan menghilang bersama nafasnya yang tersengal-sengal . aku melihat wajahnya sangat pucat dengan butiran keringan membasahi tubuhnya. Dia langsung mmeriksa kotak emas dan semua hartanya. Ia mendekapnya erat-erat dan berteriak “jangan ambil hartaku! Jangan ambil semua hartaku!” sampai akhirnya ia sadar sepenuh bahwa dia sedang bermimpi.
Aku tersenyum melihatnya. Dia begitu takut kehilangan hartanya. Yayaya aku mengangguk-anggukan kepala seolah paham dan berkata “bagus juga mimpimu kawan”.
Aku melangkah kembali menyusuri gang-gang yang mulai tidak aku kenali. Masih banyak gelembung-gelembung mimpi melyang-layang diatas rumah penduduk
Tidak ada seorangpun di jalan itu. Hanya aku seorang diri. Ini adalah hal yang menyenangkan. Aku dapat melihat apa yang sedang dimimpikan orang. Tapi tetap saja akulah satu-satunya orang yang tidak beruntung. Disaat orang-orang sedang bermimpi aku malah berkeliaran seperti ini. Huh..
Sebuah gekembung mimpi kembali mencuri perhatianku, didalam gelembung itu aku melihat suasana desa yang asri, masyarakatnya pun ramah tamah. Aku ingin tahu, siapa sih yang sedang bermimpi ini. Aku melihat seorang remaja berumur sekitar 22 tahun yang sedang tersenyum dalam tidurnya . Dikamarnya aku melihat laptop yang menyala dan banyak sekali buku-buku politik, poster-poster band-band seperti sex pistols, chumbawamba,dead kennedys dan banyak lainnya.
Aku kembali mengamati gelembung mimpinya. digapura desa itu tertulis “ selamat datang didesa sukasuka” semua masyarakatnya ramah, semua hidup dengan bahagia.
Setiap orang bekerja menurut kemampuannya, tanah dan pabrik semua dimiliki bersama.
Semua hasil sumberdaya desa tersebut dinikmati bersama. Tidak ada aktivitas jual-beli,
masyarakatnya menjadikan simbiosis mutualisme sebagai dasar hidup mereka. Mereka benar-benar mandiri dan kreatif.aku melihat di desa itu samasekali berbeda dengan desa-desa yang pernah aku kunjungi. Aku senang mengamati mimpi remaja ini. Sampai-sampai aku duduk manis dipinggir jalan dan bersandarkan tong sampah. Aku terus mengikuti perjalanan mimpi pemuda itu…namun konsentrasiku pecah ketika seekor kucing berlari cepat didepanku kemudian dikuti suara gaduh gonggongan anjing. Pandangan mataku terarah pada sumber gonggong anjing itu dan kemudian seekor anjing besar hitam tanpa ekor dengan giginya yang menyeramkan keluar dari sebuah rumah besar sekitar 7 meter dari tempatku duduk. Anjing itu berlari kearahku dengan buas. Akupun meloncat bangkit dan mengambil langkah 500 ribu, tak sampai pada langkah yang ke seribu. Barisan gigi besar nan tajam itu menancap keras dipantatku. Akupun berteriak sejadi-jadinya! Ya allah pantatkuu!!!! Aku merasa mau pingsan,badanku terhuyung-huyung jatuh kebelakang. Bebarengan dengan itu aku merasa kepalaku terbentur sesuatu seketika aku tersentak dan membuka mataku. Nafasku berhembus tidak beraturan. Aku medapati tubuhku dilantai kepalaku terbentur tembok dan tulang ekorku nyeri karena terjatuh dari kursi rotan. ternyata aku hanya bermimpi. Syukurlah! Aku mencoba tenang sedikit untuk mengatur nafas.aku lihat jam dinding menunjukan pukul 7 padahal aku harus masuk kerja tepat pukul 7 pagi. Sial!!! Aku telat lagi!! Dengan tergesa-gesa beserta umpatan-umpatan aku bangkit dan bergegas menyiapkan diri untuk bekerja.
Aku kancingkan seragam kerjaku sambil mengumpat, aku pakai sepatu doctor matrin ku juga sambil mengumpat, aku kebut skuterku juga dengan mengumpat. Aku mengutuk diriku sendiri, aku mengutuk aktivitasku. aku benci pagi harii
BEKERJA DAN MENGHUJAT
“Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas di muka bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka yang mewarisi bumi.” (Q S. 28:5)
SEORANG yang sudah lama tertindas seringkali tidak akan kuat untuk melawan, terus menjadi lemah dan mati. Namun tidak bagi proletariat, pada saat mereka semakin kehilangan kemanusiaannya akibat eksploitasi kapitalis, kesadaran kelas mereka pun semakin terbentuk kokoh. Semangat juang mereka juga tak akan terpatahkan. Mereka tidak akan membiarkan diri untuk mati, mereka akan memberontak. Dominasi kapitalisme industri akan membawa buruh sebagai kelas menuju pada kesadaran massal akan eksistensinya untuk segera bersepakat dan mengorganisasikan diri ke dalam serikat-serikat buruh. Mereka akan sadar dengan sendirinya, di tengah persaingan para pemodal yang niscaya akan terus menekan upah dan imbalan kerja agar mereka dapat bertahan dalam arena kompetisi yang semakin meruncing, maka kaum buruh akan dibuat semakin melarat. Akhirnya, kaum buruh tidak dapat membeli lagi kebutuhan pokoknya serta segala yang mereka butuhkan untuk bisa bekerja. Mereka akan semakin sadar bahwa mereka merupakan satu kelas senasib sepenanggungan dan tidak ada lagi perbedaan di antara mereka. Mereka adalah kuli bangunan, tukang las, pekerja pabrik, pelaut, pegawai kantoran, petani garam, dan lain-lain, yaitu mereka-mereka yang terlibat langsung dalam aktivitas produksi kapitalis. Daya juang mereka semakin terlatih. Musuh mereka bukan lagi sang pemilik pabrik ataupun tuan tanah, melainkan kapitalis sebagai kelas. Borjuasi telah memproduksi penggali kuburnya sendiri. Inilah perang kelas. tapi, semua itu tidak dapat dengan mudah terbentuk. rupanya bedug perang kelas itu perlu ditunda sejenak, kenyataan dalam dunia kerja tidaklah se-revolusioener itu. saya melihat musuh kita bukan hanya kapitalis sebagai pemilik modal. melainkan kawan-kawan kita sendiri, seperti apa yang saya lihat, masih sangat banyak buruh-buruh disekitar kita yang merasa berkecukupan, terikat dengan begitu banyak tanggungjawab pribadi, mempunyai relasi yang cukup baik dengan atasan sehingga mereka menjadi malas, takut, atau bahkan sama sekali tidak bersepakat dengan segala bentuk perjuangan buruh. entah apa nama yang yang cocok untuk golongan seperti ini. mereka juga buruh upahan, mereka juga terlibat langsung dalam aktifitas produksi kapitalis, mereka juga korban, mereka juga luka-luka. tapi tidak pernah berusaha atau tidak tertarik untuk mengobatinya. permasalahan-permasalahan ini adalah sebuah alasan yang seharusnya mengapa serikat-serikat atau organisasi-organisai buruh yang semakin menjamur itu dibentuk.
Di sini saya hendak mencoba mengkritisi agenda-agenda serikat-serikat buruh di Indonesia yang pernah saya ketahui, dan mungkin memang begitu adanya, yaitu tentang terfokusnya agenda-agenda tersebut hanya pada bagaimana memperbaiki kondisi kerja, memperjuangkan upah layak, mendefinisikan dan mengurangi standar kerja mingguan, dan menghalangi para pengusaha untuk dapat memecat dan mempekerjakan buruh sesuka hati. Saya mulai ragu, karena serikat-serikat buruh di Indonesia dewasa ini, dalam perspektif sempit saya, hanya menjadi pawang kebuasan singa kapitalisme. mengapa begitu, Mereka hanya menjadi seperti wasit dalam pertandingan sepakbola, mereka tidak menjadi mitra juang buruh sebagaimana yang diharapkan. Mereka tidak menyelenggarakan ‘tempat didik’, dimana serikat-serikat buruh itu merubah proletariat menjadi kelas militan revolusioner, melainkan hanya bersikap netral dan menjaga komunikasi yang “saling menguntungkan” antar-kelas. Sungguh ironis, saya adalah mantan pekerja upahan di sebuah pabrik di Surabaya yang memproduksi velg mobil, dimana di dalamnya terdapat serikat buruh independen yang diharapkan menjadi malaikat Jibril bagi para pekerja, tapi kenyataannya " tanggal 1 Mei tetap masuk seperti biasa " Tidak ada hal spesial pada Hari Buruh se-Dunia yang punya sejarah dramatis itu. begitu juga para pekerja yang masih dalam masa training, selama 6 bulan mereka tidak mendapatkan gaji dan hanya mendapatkan uang makan sejumlah 50% dari uang makan pekerja tetap setiap harinya yaitu sebesar Rp. 5.000 dan tidak mudah untuk dapat mejadi pekerja tetap disana, mereka para pekerja training ini juga dibebani dengan kewajiban membayar sejumlah uang kepada perusahaan dengan alasan untuk melengkapi administrasi dan tetek bengeknya. Belum lagi banyak kejanggalan lainnya.
juga di tempat kerja pacar saya, di sebuah bank yang mengaku menerapkan sistem syari’ah Islam di Jakarta Barat. Pacar saya mengatakan bahwa di tempat kerjanya terdapat serikat buruh yang bernama Syarikat Pejuang. Dia juga mengatakan bahwa pihak manajemen bank itu menggunakan jasa outsourcing, dan pacar saya ikut berpartisipasi menjadi “produk jual-beli” mereka. Pernah dia dan beberapa temannya mencoba mengkomunikasikan kepada serikat buruh yang berwenang tentang uang tunjangan di luar gaji pokok yang telah dijanjikan oleh pemimpin bank tersebut namun tak kunjung keluar. Mereka meminta pengurus serikat (pejuang) buruh tersebut untuk mengusahakannya, tapi apa yang dikatakan oleh serikat (pejuang) buruh itu? “Anda adalah karyawan outsourcing, kami tidak memiliki wewenang atas karyawan outsourcing.” Tidak ada tawa atau kesedihan di wajah pacar saya dan temen-temannya itu. Yang ada hanya sebuah dilema: tetap bekerja di bank itu dengan segala kecurangan yang ada, atau pergi dengan mengganti uang penalti yang jumlahnya sangat tidak realistis.
Adalah kebencian yang mendalam akan eksistensi serikat-serikat buruh semacam ini; tidak ada organisasi ataupun lembaga yang mampu memperjuangkan kemerdekaan buruh seutuhnya. Mungkin inilah kritik paling mendasar para anarkis-individualis untuk membentangkan antipatinya terhadap segala macam organisasi ataupun lembaga yang mengatasnamakan keadilan sosial. Memang merupakan hal yang sangat sulit untuk membuat para kamerad anarkis-individualis kembali percaya bahwa tanpa perjuangan terorganisir, revolusi hanya akan menjadi sebuah kata tanpa makna. Bayangkan, 10.000 orang anarkis yang terorganisir dalam komite-komite pabrik berbasis swakelola di Rusia pasca-Revolusi Februari, gerakan Makhnovis di Ukraina dan pemberontakan Kronstadt dapat dengan mudah dihancurkan oleh para kontra-revolusi, hingga matinya gerakan anti-otoritarian pada 1920. Sejarah ini seharusnya dapat dijadikan pelajaran, pengalaman sangat pahit yang jangan sampai terulang kembali. Karena itu, sangatlah penting untuk membentuk arah perjuangan yang selaras dalam sebuah organisasi yang akan memadukan aktivitas revolusioner efektif dengan prinsip-prinsip anarkis yang fundamental, misalnya dengan membentuk serikat-serikat pekerja yang menetapkan edukasi emansipasi buruh dalam agendanya, menempatkan beberapa aktivisnya di tempat-tempat produksi untuk merangsang diskusi pada jam-jam istirahat, dan berbagai aktivitas lainnya yang mendorong pencerahan kaum buruh.
Ringkasnya adalah wahana dimana proletariat dapat menemukan pencerahan setelah terjadi banyak kecurangan terhadapnya. Sebuah revolusi yang destruktif atas sistem lama yang kapitalistik, sebuah revolusi yang bermimpi untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa kelas, tatanan masyarakat dimana setiap individu ikut ambil bagian dalam kerja-kerja produktif untuk kebutuhan komunal, suatu masyarakat dimana semua orang bekerja sesuai kemampuan dan mendapatkan sesuai kebutuhan.
SEORANG yang sudah lama tertindas seringkali tidak akan kuat untuk melawan, terus menjadi lemah dan mati. Namun tidak bagi proletariat, pada saat mereka semakin kehilangan kemanusiaannya akibat eksploitasi kapitalis, kesadaran kelas mereka pun semakin terbentuk kokoh. Semangat juang mereka juga tak akan terpatahkan. Mereka tidak akan membiarkan diri untuk mati, mereka akan memberontak. Dominasi kapitalisme industri akan membawa buruh sebagai kelas menuju pada kesadaran massal akan eksistensinya untuk segera bersepakat dan mengorganisasikan diri ke dalam serikat-serikat buruh. Mereka akan sadar dengan sendirinya, di tengah persaingan para pemodal yang niscaya akan terus menekan upah dan imbalan kerja agar mereka dapat bertahan dalam arena kompetisi yang semakin meruncing, maka kaum buruh akan dibuat semakin melarat. Akhirnya, kaum buruh tidak dapat membeli lagi kebutuhan pokoknya serta segala yang mereka butuhkan untuk bisa bekerja. Mereka akan semakin sadar bahwa mereka merupakan satu kelas senasib sepenanggungan dan tidak ada lagi perbedaan di antara mereka. Mereka adalah kuli bangunan, tukang las, pekerja pabrik, pelaut, pegawai kantoran, petani garam, dan lain-lain, yaitu mereka-mereka yang terlibat langsung dalam aktivitas produksi kapitalis. Daya juang mereka semakin terlatih. Musuh mereka bukan lagi sang pemilik pabrik ataupun tuan tanah, melainkan kapitalis sebagai kelas. Borjuasi telah memproduksi penggali kuburnya sendiri. Inilah perang kelas. tapi, semua itu tidak dapat dengan mudah terbentuk. rupanya bedug perang kelas itu perlu ditunda sejenak, kenyataan dalam dunia kerja tidaklah se-revolusioener itu. saya melihat musuh kita bukan hanya kapitalis sebagai pemilik modal. melainkan kawan-kawan kita sendiri, seperti apa yang saya lihat, masih sangat banyak buruh-buruh disekitar kita yang merasa berkecukupan, terikat dengan begitu banyak tanggungjawab pribadi, mempunyai relasi yang cukup baik dengan atasan sehingga mereka menjadi malas, takut, atau bahkan sama sekali tidak bersepakat dengan segala bentuk perjuangan buruh. entah apa nama yang yang cocok untuk golongan seperti ini. mereka juga buruh upahan, mereka juga terlibat langsung dalam aktifitas produksi kapitalis, mereka juga korban, mereka juga luka-luka. tapi tidak pernah berusaha atau tidak tertarik untuk mengobatinya. permasalahan-permasalahan ini adalah sebuah alasan yang seharusnya mengapa serikat-serikat atau organisasi-organisai buruh yang semakin menjamur itu dibentuk.
Di sini saya hendak mencoba mengkritisi agenda-agenda serikat-serikat buruh di Indonesia yang pernah saya ketahui, dan mungkin memang begitu adanya, yaitu tentang terfokusnya agenda-agenda tersebut hanya pada bagaimana memperbaiki kondisi kerja, memperjuangkan upah layak, mendefinisikan dan mengurangi standar kerja mingguan, dan menghalangi para pengusaha untuk dapat memecat dan mempekerjakan buruh sesuka hati. Saya mulai ragu, karena serikat-serikat buruh di Indonesia dewasa ini, dalam perspektif sempit saya, hanya menjadi pawang kebuasan singa kapitalisme. mengapa begitu, Mereka hanya menjadi seperti wasit dalam pertandingan sepakbola, mereka tidak menjadi mitra juang buruh sebagaimana yang diharapkan. Mereka tidak menyelenggarakan ‘tempat didik’, dimana serikat-serikat buruh itu merubah proletariat menjadi kelas militan revolusioner, melainkan hanya bersikap netral dan menjaga komunikasi yang “saling menguntungkan” antar-kelas. Sungguh ironis, saya adalah mantan pekerja upahan di sebuah pabrik di Surabaya yang memproduksi velg mobil, dimana di dalamnya terdapat serikat buruh independen yang diharapkan menjadi malaikat Jibril bagi para pekerja, tapi kenyataannya " tanggal 1 Mei tetap masuk seperti biasa " Tidak ada hal spesial pada Hari Buruh se-Dunia yang punya sejarah dramatis itu. begitu juga para pekerja yang masih dalam masa training, selama 6 bulan mereka tidak mendapatkan gaji dan hanya mendapatkan uang makan sejumlah 50% dari uang makan pekerja tetap setiap harinya yaitu sebesar Rp. 5.000 dan tidak mudah untuk dapat mejadi pekerja tetap disana, mereka para pekerja training ini juga dibebani dengan kewajiban membayar sejumlah uang kepada perusahaan dengan alasan untuk melengkapi administrasi dan tetek bengeknya. Belum lagi banyak kejanggalan lainnya.
juga di tempat kerja pacar saya, di sebuah bank yang mengaku menerapkan sistem syari’ah Islam di Jakarta Barat. Pacar saya mengatakan bahwa di tempat kerjanya terdapat serikat buruh yang bernama Syarikat Pejuang. Dia juga mengatakan bahwa pihak manajemen bank itu menggunakan jasa outsourcing, dan pacar saya ikut berpartisipasi menjadi “produk jual-beli” mereka. Pernah dia dan beberapa temannya mencoba mengkomunikasikan kepada serikat buruh yang berwenang tentang uang tunjangan di luar gaji pokok yang telah dijanjikan oleh pemimpin bank tersebut namun tak kunjung keluar. Mereka meminta pengurus serikat (pejuang) buruh tersebut untuk mengusahakannya, tapi apa yang dikatakan oleh serikat (pejuang) buruh itu? “Anda adalah karyawan outsourcing, kami tidak memiliki wewenang atas karyawan outsourcing.” Tidak ada tawa atau kesedihan di wajah pacar saya dan temen-temannya itu. Yang ada hanya sebuah dilema: tetap bekerja di bank itu dengan segala kecurangan yang ada, atau pergi dengan mengganti uang penalti yang jumlahnya sangat tidak realistis.
Adalah kebencian yang mendalam akan eksistensi serikat-serikat buruh semacam ini; tidak ada organisasi ataupun lembaga yang mampu memperjuangkan kemerdekaan buruh seutuhnya. Mungkin inilah kritik paling mendasar para anarkis-individualis untuk membentangkan antipatinya terhadap segala macam organisasi ataupun lembaga yang mengatasnamakan keadilan sosial. Memang merupakan hal yang sangat sulit untuk membuat para kamerad anarkis-individualis kembali percaya bahwa tanpa perjuangan terorganisir, revolusi hanya akan menjadi sebuah kata tanpa makna. Bayangkan, 10.000 orang anarkis yang terorganisir dalam komite-komite pabrik berbasis swakelola di Rusia pasca-Revolusi Februari, gerakan Makhnovis di Ukraina dan pemberontakan Kronstadt dapat dengan mudah dihancurkan oleh para kontra-revolusi, hingga matinya gerakan anti-otoritarian pada 1920. Sejarah ini seharusnya dapat dijadikan pelajaran, pengalaman sangat pahit yang jangan sampai terulang kembali. Karena itu, sangatlah penting untuk membentuk arah perjuangan yang selaras dalam sebuah organisasi yang akan memadukan aktivitas revolusioner efektif dengan prinsip-prinsip anarkis yang fundamental, misalnya dengan membentuk serikat-serikat pekerja yang menetapkan edukasi emansipasi buruh dalam agendanya, menempatkan beberapa aktivisnya di tempat-tempat produksi untuk merangsang diskusi pada jam-jam istirahat, dan berbagai aktivitas lainnya yang mendorong pencerahan kaum buruh.
Ringkasnya adalah wahana dimana proletariat dapat menemukan pencerahan setelah terjadi banyak kecurangan terhadapnya. Sebuah revolusi yang destruktif atas sistem lama yang kapitalistik, sebuah revolusi yang bermimpi untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa kelas, tatanan masyarakat dimana setiap individu ikut ambil bagian dalam kerja-kerja produktif untuk kebutuhan komunal, suatu masyarakat dimana semua orang bekerja sesuai kemampuan dan mendapatkan sesuai kebutuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)